Radarsampit.com – Motor matik menjadi pilihan banyak masyarakat karena praktis, nyaman dikendarai, dan mudah digunakan di berbagai kondisi jalan. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti motor matik bebas dari risiko kerusakan. Tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari justru dapat mempercepat keausan komponen penting dan berujung pada biaya perbaikan yang tidak sedikit.
Mulai dari sistem CVT, kampas kopling, mesin, hingga ban, semuanya memiliki usia pakai yang dipengaruhi oleh cara berkendara dan perawatan. Agar performa motor tetap optimal, berikut tujuh kebiasaan yang sebaiknya mulai dihindari.
1. Langsung Memutar Gas Penuh
Sebagian pengendara terbiasa menarik gas secara spontan begitu jalan mulai lengang atau lampu lalu lintas berubah hijau. Padahal, akselerasi yang terlalu agresif membuat komponen CVT seperti v-belt, roller, dan kampas kopling bekerja lebih berat.
Akan lebih baik jika membuka gas secara bertahap agar tenaga tersalur lebih halus sekaligus memperpanjang umur komponen transmisi.
2. Menahan Gas Saat Motor Diam
Kebiasaan lain yang masih sering dilakukan adalah tetap menarik gas sambil menekan rem, terutama ketika berhenti di tanjakan. Cara ini membuat kampas kopling terus bergesekan sehingga lebih cepat aus dan berpotensi menimbulkan gejala selip pada CVT.
3. Jarang Membersihkan Ruang CVT
CVT merupakan jantung sistem penggerak motor matik. Debu, pasir, dan kotoran yang menumpuk di dalam rumah CVT bisa mengganggu kinerja pulley, roller, hingga v-belt.
Karena itu, pembersihan CVT secara berkala sesuai jadwal servis sangat dianjurkan agar akselerasi tetap halus dan komponen tidak cepat rusak.
4. Membiarkan Bahan Bakar Hampir Habis
Mengendarai motor dengan tangki yang nyaris kosong juga kurang baik. Kondisi ini membuat pompa bahan bakar bekerja lebih keras. Selain itu, endapan kotoran di dasar tangki berisiko ikut tersedot ke sistem injeksi sehingga dapat memengaruhi performa mesin.
Usahakan mengisi BBM sebelum indikator menunjukkan posisi terlalu rendah.
5. Mengabaikan Tekanan Ban
Tekanan angin ban yang kurang sering dianggap sepele, padahal dampaknya cukup besar. Ban yang kempis membuat hambatan gulir meningkat sehingga mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk melaju.
Selain konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros, ban juga lebih cepat aus. Pemeriksaan tekanan angin sebaiknya dilakukan setidaknya seminggu sekali atau sebelum bepergian jauh.
6. Terlambat Mengganti Oli
Tidak sedikit pemilik motor yang hanya fokus mengganti oli mesin, tetapi lupa mengganti oli gardan. Padahal, oli gardan berfungsi melindungi sistem transmisi akhir agar tetap bekerja dengan baik.
Jika penggantian oli terlambat, gesekan antar komponen meningkat dan risiko kerusakan menjadi lebih besar.
7. Membawa Muatan Melebihi Kapasitas
Setiap motor memiliki batas maksimal beban yang direkomendasikan pabrikan. Membawa barang atau penumpang secara berlebihan akan membuat suspensi, ban, CVT, dan mesin bekerja lebih keras.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa mempercepat keausan berbagai komponen dan menurunkan kenyamanan berkendara.
Perawatan Rutin Lebih Hemat daripada Perbaikan
Menjaga kondisi motor matik sebenarnya tidak memerlukan langkah yang rumit. Pengendara cukup menerapkan kebiasaan berkendara yang benar, melakukan servis sesuai jadwal, mengganti oli tepat waktu, menjaga tekanan ban, serta rutin membersihkan CVT.
Perawatan sederhana tersebut dapat membantu menjaga performa kendaraan tetap maksimal, membuat konsumsi BBM lebih efisien, sekaligus mengurangi risiko kerusakan pada komponen yang biaya penggantiannya relatif mahal. Dengan kata lain, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari sangat menentukan usia pakai motor matik.
Halaman: 1 2

















































