
Dari Tanah Merah ke Cahaya Masa Depan: Hilirisasi Bauksit dan Lahirnya Masa Depan Aluminium RI (Foto: Inalum)
JAKARTA - Di perut bumi Kalimantan Barat, tersimpan tanah merah yang selama puluhan tahun hanya dipandang sebagai komoditas ekspor biasa. Bauksit, mineral yang dahulu dikirim keluar negeri tanpa banyak jejak nilai tambah kini menjadi titik balik sejarah industrialisasi Indonesia.
Melalui proyek hilirisasi terpadu di Mempawah, holding industri pertambangan MIND ID bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengubah paradigma lama, dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen logam strategis bernilai tinggi.
Di kawasan inilah, rantai nilai baru dilahirkan, bauksit diolah menjadi alumina, lalu dimurnikan menjadi aluminium, logam masa depan yang menjadi tulang punggung industri modern. Ini bukan sekadar pembangunan fasilitas industri tapi ini adalah pembangunan kedaulatan.
Mengubah Tanah Jadi Kekuatan Ekonomi
Bauksit mentah hanya bernilai sekitar USD40 per metrik ton. Namun melalui pengolahan menjadi alumina, nilainya meningkat sepuluh kali lipat menjadi sekitar USD400 per metrik ton. Ketika mencapai tahap akhir menjadi aluminium, nilainya melonjak hingga USD3.000 per metrik ton.
Dalam satu rantai proses hilirisasi, Indonesia mampu menciptakan nilai tambah hingga 70 kali lipat. Lonjakan ini bukan sekadar peningkatan harga. Ia adalah simbol perubahan, bahwa Indonesia tidak lagi menjual potensi, melainkan menjual kekuatan industri.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan bahwa hilirisasi merupakan fondasi kemandirian ekonomi nasional.
"Proyek ini merupakan kontribusi nyata Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, serta memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral untuk masa depan Indonesia," ujar Maroef dalam acara groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I, Jumat (6/2/2026).
CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menekankan bahwa pengembangan ekosistem terintegrasi ini menjadikan sumber daya mineral tidak lagi sekedar komoditas ekspor mentah, melainkan bahan baku strategis yang mendukung transformasi industri nasional.
"Melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium ini kita berupaya mewujudkan transformasi industri yang mampu mendorong penciptaan lapangan kerja dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional," kata Rosan.
Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian
Selama bertahun-tahun, Indonesia masih bergantung pada impor aluminium untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Ketergantungan ini menjadi paradoks bagi negara yang memiliki cadangan bauksit melimpah.
Kini, melalui pembangunan smelter aluminium berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 berkapasitas 1 juta metrik ton per tahun, paradoks itu mulai diakhiri.
Saat fasilitas ini beroperasi penuh, cadangan devisa nasional diperkirakan melonjak dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun, peningkatan 394 persen. Lebih dari sekadar angka, ini adalah langkah nyata menuju kedaulatan industri.














































