BARRU - Ketegangan yang menyelimuti warga Desa Nepo dan Desa Manuba, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru akhirnya berakhir melegakan.
Di bawah komando Kepala Desa Nepo, Muhammad Toaha, aktivitas tambang pasir ilegal yang selama ini meresahkan warga resmi dihentikan secara total dan permanen pada Sabtu (4/4/2026).
Langkah tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Muhammad Toaha menjadi aktor intelektual di balik mediasi bertensi tinggi yang mempertemukan warga dengan pihak penambang.
Di tengah desakan ekonomi dari pihak pengusaha berinisial BK, Toaha memilih berdiri di sisi rakyatnya demi menjaga kelestarian ekosistem sungai.
Dalam pertemuan yang digelar di Kantor Desa Nepo, sempat terjadi tarik-ulur. Pihak penambang sempat melobi untuk mendapatkan napas tambahan berupa kelonggaran waktu satu minggu beroperasi. Namun, permintaan tersebut langsung kandas.
"Pemerintah Desa memfasilitasi pertemuan ini agar aspirasi masyarakat Desa Nepo bisa tertuang secara resmi. Hasilnya, pihak penambang bersedia menandatangani surat pernyataan untuk menutup total pengambilan material di sungai, " tegas Muhammad Toaha, saat dikonfirmasi pada Senin (5/4/2026).
Keputusan Toaha untuk tidak memberi celah bagi penambang liar didasari oleh trauma kolektif warga akan bencana.
Pada periode 2020-2022, wilayah ini sempat dihantam banjir besar yang diduga kuat merupakan dampak dari rusaknya badan sungai akibat pengerukan ilegal.
Bagi Muhammad Toaha, peran Kepala Desa bukan sekadar urusan administratif, melainkan penjaga keselamatan nyawa warga.
Ia memahami bahwa membiarkan alat berat merusak sungai sama saja dengan mengundang kembali bencana ke pemukiman.
Kini, suara deru alat berat di perbatasan Desa Nepo dan Manuba telah berganti dengan ketenangan.
Berikut adalah poin-poin penting dari hasil mediasi tersebut:
- Penutupan Total: Tidak ada lagi aktivitas pengerukan dalam bentuk apa pun.
- Legalitas Hitam di Atas Putih: Pihak penambang telah menandatangani surat pernyataan resmi untuk berhenti permanen.
- Sinergi Publik: Keberhasilan ini merupakan buah manis dari kekompakan warga, pemberitaan media yang kritis, dan respons cepat Pemerintah Desa.
Seorang warga yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan rasa syukur atas keberanian Kades mereka.
"Kami dipanggil ke kantor desa dan hasilnya menggembirakan. Tidak boleh lagi ada aktivitas di sana. Kami ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang banjir, " ungkapnya.

1 week ago
5

















































