Polemik Chiki Fawzi Dicopot dari Petugas Haji 2026, Dukungan Netizen Mulai Mengaliramp;nbsp;

10 hours ago 4

Polemik Chiki Fawzi Dicopot dari Petugas Haji 2026, Dukungan Netizen Mulai Mengalir 

Polemik Chiki Fawzi Dicopot dari Petugas Haji 2026, Dukungan Netizen Mulai Mengalir. (Foto: IG Chiki Fawzi)

JAKARTA - Polemik pemberhentian konten kreator sekaligus influencer Chiki Fawzi sebagai petugas pendamping ibadah haji secara tiba-tiba ternyata tidak berhenti pada klarifikasi semata. Persoalan ini justru memanjang seiring munculnya berbagai tudingan dari netizen yang menilai Chiki hanya “nebeng haji” melalui jalur petugas.

Tudingan tersebut menuai pro dan kontra di kalangan warganet. Sejumlah netizen melayangkan fitnah serta tuduhan serupa. Bahkan sebelumnya, ada warganet yang mengaku sebagai rekan satu barak Chiki dan mengunggah komentar bernada negatif terkait pencopotan sang konten kreator dari posisi petugas pendamping ibadah haji.

Di sisi lain, tidak sedikit pula netizen yang memberikan dukungan dan komentar positif sebagai bentuk pembelaan terhadap Chiki. Salah satunya datang dari netizen bernama Rosadi Jamani, yang tulisannya diperoleh dari sang bibi dan kemudian diunggah ulang oleh Chiki Fawzi melalui akun Instagram miliknya.

Dalam tulisan bertajuk “Barak 216”, Rosadi menggambarkan bagaimana Chiki menjalani kehidupan barak yang keras selama masa pendidikan dan pelatihan (diklat). Jauh dari kesan mewah seorang influencer, Chiki disebut bangun sebelum subuh di kamar 216, melipat selimut dengan rapi, dan bersiap melayani jemaah tanpa membawa atribut keistimewaan sebagai petugas yang masuk melalui jalur penunjukan langsung dari kementerian.

“Ia bukan siapa-siapa di barak itu. Bukan jenderal, bukan pejabat, bukan titipan ormas. Hanya seorang manusia yang ingin melayani, dengan cara yang ia tahu: hadir, bekerja, dan bercerita,” tulis Rosadi, dikutip dari unggahan Instagram Chiki Fawzi, Selasa (3/2/2026).

Ia menyebut, dedikasi di dunia nyata tersebut justru berbanding terbalik dengan persepsi di jagat maya. Saat Chiki berjuang mengikuti ritme diklat semi-militer, mulai dari lari hingga evaluasi disiplin, gelombang kritik tajam justru menghantamnya dari luar. Tuduhan tidak disiplin hingga narasi “konten dulu, tugas belakangan” terus digoreng netizen hingga menjadi bola salju yang semakin membesar.

Rosadi menjelaskan, keterlambatan Chiki dalam mengikuti rangkaian tes bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal itu terjadi karena Chiki tengah menjalankan misi kemanusiaan di wilayah konflik seperti Yordania dan Suriah.

Ironisnya, meski tidur di kasur yang sama dan menghirup napas lelah yang sama dengan petugas lain, publik justru hanya terfokus pada tudingan serta konten Chiki yang diunggah di media sosial.

“Lucu memang. Di negeri ini, dosa paling tak terampuni bukan korupsi, tapi punya pengaruh,” tulisnya.

Ia mengungkapkan, keputusan pencopotan Chiki Fawzi akhirnya datang tanpa drama besar, namun meninggalkan luka yang mendalam. Namanya dicoret layaknya salah ejaan dalam sebuah dokumen administratif, tanpa ruang untuk membela diri secara utuh. Saat dunia maya bersorak merayakan “kemenangan” atas pencopotannya, tak banyak yang bertanya bagaimana rasanya sebuah niat baik dilucuti di hadapan publik.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |