SAMPIT, radarsampit.com– Perampokan bersenjata api yang menggasak uang ratusan juta rupiah milik toke sawit di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Warga khawatir aksi kejahatan serupa terulang, mengingat para pelaku dilengkapi senjata api.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (10/1/2026) pagi. Korbannya adalah Panji Trisno (25), warga asal Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang saat kejadian tengah membawa uang milik majikannya untuk pembayaran buah sawit ke pabrik.
Panji mengaku hingga kini masih trauma atas peristiwa tersebut. Ia tidak menyangka perjalanan rutinnya justru berujung pada perampokan bersenjata.
“Saya tidak curiga sama sekali. Sudah dua tahun saya bekerja dengan Pak Suwardi sejak 2024. Sehari-hari memang tugas saya mengelola uang replas timbangan sawit,” ujar Panji kepada wartawan.
Panji menceritakan, pagi itu ia menunggu majikannya, Suwardi, di rumah Jalan Padat Karya, Parenggean. Tak lama kemudian, Suwardi datang dan menyerahkan uang sebesar Rp551.856.000 yang disimpan dalam tas laptop.
Uang tersebut rencananya akan diantarkan Panji ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Katingan Indah Utama (KIU) di Desa Kabuau menggunakan sepeda motor Honda Beat.
Namun di tengah perjalanan, tepatnya di perbatasan kebun PT Sinarmas Parenggean (SMP) dan PT KIU, Panji tiba-tiba dihadang seorang pria tak dikenal yang berdiri di badan jalan.
“Saya kira itu pekerja kebun. Tapi saat di dekat belokan, saya langsung ditodong pistol. Saya benar-benar ketakutan dan pasrah,” ungkap Panji.
Tak hanya satu orang, Panji melihat sedikitnya empat pelaku berada di lokasi. Dua orang berdiri di sekitar pepohonan, sementara satu pelaku lain diduga bertugas mengawasi situasi.
Pelaku yang menodongkan pistol mengenakan kaos hitam dan celana pendek abu-abu. Wajahnya tertutup kain slayer sehingga sulit dikenali. Pelaku juga sempat mendorong Panji hingga hampir terjatuh dari sepeda motor.
“Dia bilang ‘serahkan tas’. Karena takut, saya langsung menyerahkan tas berisi uang,” kata Panji.
Setelah berhasil merampas tas, para pelaku juga mengambil telepon genggam serta kunci kontak sepeda motor korban. Komplotan perampok kemudian kabur menggunakan sepeda motor Honda Beat warna hitam dengan pelat nomor yang tidak jelas.
Panji bersyukur dirinya tidak mengalami luka fisik. Ia mengaku tidak berani melawan karena ancaman senjata api.
Beberapa waktu setelah kejadian, warga yang melintas di lokasi menolong Panji dan mengantarkannya ke pos pengamanan PT SMP. Dari sana, Panji kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.
“HP dan kunci motor saya dibawa pelaku, jadi saya tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Untung ada warga yang menolong,” ujarnya.
Panji berharap para pelaku segera ditangkap karena selain trauma, sebagian uang yang dirampok merupakan titipan milik orang tuanya.
“Sekitar Rp50 juta itu uang orang tua saya untuk pembayaran buah sawit. Saya sangat berharap pelakunya cepat tertangkap,” tutup Panji. (*)
















































