Anggie Ariesta
, Jurnalis-Kamis, 19 Februari 2026 |08:09 WIB

Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mengambil langkah konservatif dengan mempertahankan kebijakan moneter saat ini. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mengambil langkah konservatif dengan mempertahankan kebijakan moneter saat ini. Keputusan menahan suku bunga di level 4,75 persen dinilai tepat di tengah lonjakan inflasi, derasnya arus modal asing keluar (capital outflow), serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menyarankan agar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Februari 2026 tetap mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Langkah ini dinilai sebagai jalan tengah untuk menjaga kepercayaan pasar yang tengah goyah.
“Dalam kondisi tekanan inflasi dan keluarnya modal asing, menahan suku bunga adalah langkah paling rasional. Pemangkasan suku bunga berisiko memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga bisa menekan permintaan domestik,” ujar Riefky dalam risetnya, dikutip Kamis (19/2/2026).
Kondisi ekonomi Januari 2026 menunjukkan sinyal kewaspadaan dengan inflasi tahunan yang meningkat menjadi 3,55 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini naik signifikan dibandingkan Desember 2025 sebesar 2,92 persen dan telah melampaui batas atas sasaran inflasi BI.
Lonjakan tersebut dipicu dua faktor utama, yakni efek basis rendah (low base effect) akibat berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik 50 persen pada awal tahun sebelumnya serta kenaikan harga emas global yang mendorong inflasi inti mencapai 2,45 persen (yoy).
Riefky mengingatkan tantangan belum berakhir karena siklus musiman segera tiba.
“Ke depan, tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.
Tekanan tidak hanya datang dari sektor riil, tetapi juga pasar keuangan. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif serta isu kelayakan investasi dari MSCI memicu kekhawatiran investor.


















































