
Kanselir Jerman Dukung Larangan Medsos untuk Anak-Anak (Dok Anadolu)
BERLIN - Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan dukungannya untuk membatasi akses media sosial (medsos) untuk anak-anak.
1. Dukung Larangan Medsos
Ia yakin akan perlunya pembatasan wajib berdasarkan bukti kerusakan yang disebabkan penyebaran berita palsu dan bentuk manipulasi daring lainnya secara sengaja.
"Apakah kita ingin membiarkan berita palsu yang dibuat secara artifisial, berita bohong, film yang dibuat secara artifisial, dan salah tafsir disebarkan melalui media sosial?" kata Merz, dalam pidato menjelang konferensi tahunan Persatuan Demokratik Kristen (CDU), melansir Reuters, Kamis (19/2/2026).
"Apakah kita ingin membiarkan masyarakat kita dirusak dengan cara ini, baik secara internal maupun eksternal, dan kaum muda serta anak-anak kita terancam dengan cara ini?" katanya.
Merz mencatat, anak berusia 14 tahun menghabiskan rata-rata lima setengah jam sehari secara daring.
Konferensi Partai CDU pada Jumat dijadwalkan membahas mosi yang menyerukan pelarangan akses ke platform seperti TikTok atau Instagram bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Seruan serupa telah disampaikan oleh mitra koalisi Partai Sosial Demokrat (SDP).
Semakin banyak negara di Eropa, termasuk Spanyol, Yunani, Prancis, dan Inggris, sedang mempertimbangkan larangan atau pembatasan media sosial serupa. Ini mengikuti contoh Australia, yang tahun lalu menjadi negara pertama di dunia yang memaksa platform untuk memutus akses bagi anak-anak.
"Dua tahun lalu, saya mungkin akan mengatakan sesuatu yang berbeda tentang masalah ini. Tetapi saya benar-benar meremehkan, seperti yang mungkin kita semua lakukan, pentingnya algoritma, kecerdasan buatan, dan pengaruh yang ditargetkan dan terkontrol. Dari dalam, dan juga dan terutama dari luar," katanya.


















































