Kotim Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem, Curah Hujan Diprediksi Nyaris Nol hingga September

8 hours ago 9

SAMPIT, Radarsampit.com – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih ekstrem pada tahun ini. Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, curah hujan selama periode Juli hingga September 2026 diprediksi berada pada level sangat rendah, bahkan hanya berkisar antara 0 hingga 20 milimeter per bulan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa wilayah Kotim akan menghadapi periode kering yang cukup panjang. Selain berpotensi menyebabkan kekeringan, minimnya curah hujan juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selama ini menjadi perhatian serius di Kalimantan Tengah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini dapat berlangsung hingga sekitar 120 hari. Selama periode tersebut, kelembapan tanah akan terus berkurang sehingga membuat lahan, terutama kawasan gambut, semakin rentan terbakar.

Tanda-tanda meningkatnya risiko karhutla sebenarnya mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah titik panas atau hotspot telah terpantau di beberapa wilayah Kotim. Selain itu, beberapa kejadian kebakaran lahan juga sudah dilaporkan terjadi meski musim kemarau baru memasuki fase awal.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla yang diperkirakan meningkat saat puncak musim kemarau nanti.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa cuaca kering dapat membuat api dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan. Karena itu, warga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun.

“Cuaca yang semakin kering membuat risiko kebakaran meningkat. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas,” ujarnya.

Multazam menjelaskan, kebakaran tidak selalu disebabkan aktivitas pembukaan lahan. Hal-hal yang terlihat sepele, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area kering atau lahan gambut, juga dapat memicu munculnya titik api.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD terus memperkuat langkah mitigasi melalui patroli rutin, pemantauan hotspot, serta koordinasi dengan BMKG guna memperoleh informasi terkini terkait perkembangan cuaca.

Selain upaya pemerintah, partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Warga yang tinggal di daerah rawan kebakaran diimbau mulai menyiapkan sumber air cadangan, membuat sekat bakar di sekitar lahan, serta menyediakan alat pemadaman sederhana untuk penanganan awal apabila terjadi kebakaran.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar menjaga kondisi kesehatan apabila kabut asap mulai muncul akibat kebakaran lahan. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah yang dianjurkan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Multazam menegaskan bahwa kewaspadaan dan kerja sama seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama menghadapi musim kemarau tahun ini.

Dengan prakiraan curah hujan yang nyaris nol dan musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bergerak bersama melakukan langkah pencegahan sejak dini agar bencana karhutla tidak kembali terjadi dalam skala besar di Kotawaringin Timur.

Read Entire Article
Desa Alam | | | |